KUMANIK.COM – Pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bulukumba, Syahruni Haris, mengapresiasi aksi kemanusiaan yang dilakukan awak kapal nelayan lokal KMN Sinar Mattoanging 04 setelah berhasil menyelamatkan lima korban selamat tragedi tenggelamnya KLM Nurul Salsa di perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Kelima korban ditemukan dalam kondisi selamat setelah bertahan hidup selama empat hari empat malam di tengah laut. Mereka terombang-ambing sejak kapal yang mereka tumpangi tenggelam akibat cuaca ekstrem pada Rabu, 15 Juli 2026.
Berdasarkan informasi yang diterima, para korban mampu bertahan hidup dengan berpegangan pada papan gabus (styrofoam) dan rumpon (rumah ikan) milik nelayan. Mereka juga memanfaatkan sebuah cermin rias kecil untuk memantulkan cahaya matahari sebagai tanda meminta pertolongan kepada kapal yang melintas.
Upaya tersebut membuahkan hasil ketika awak KMN Sinar Mattoanging 04 menemukan kelima korban di sekitar perairan Pulau Matallang pada Sabtu, 18 Juli 2026. Seluruh korban kemudian dievakuasi dalam keadaan selamat.
Sebelumnya, KLM Nurul Salsa diketahui berangkat dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, sekitar pukul 05.00 WITA pada Rabu, 15 Juli 2026).
Saat melintasi perairan barat Pulau Polassi, kapal mengalami mati mesin sebelum dihantam cuaca buruk yang menyebabkan lambung kapal bocor hingga akhirnya tenggelam.
Informasi mengenai ditemukannya lima korban selamat tersebut disampaikan Ketua HNSI Sulawesi Selatan yang juga Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Iwan Darmawan Aras.
Menanggapi keberhasilan penyelamatan tersebut, Syahruni Haris yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Bulukumba dan Ketua DPC Partai Gerindra Bulukumba menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh awak KMN Sinar Mattoanging 04.
“Apa yang dilakukan awak KMN Sinar Mattoanging 04 adalah contoh nyata nilai kemanusiaan dan solidaritas di tengah masyarakat pesisir. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh kru kapal yang telah menunjukkan keberanian dan kepedulian dengan menyelamatkan saudara-saudara kita yang sedang berjuang mempertahankan hidup di tengah laut,” ujar Syahruni Haris.
Menurutnya, tindakan cepat awak kapal tersebut membuktikan bahwa budaya saling tolong-menolong di kalangan nelayan masih terjaga dengan baik dan menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai risiko saat melaut.
Ia juga berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh pihak agar semakin memperhatikan aspek keselamatan pelayaran, mulai dari kesiapan armada, kelengkapan alat keselamatan, hingga sistem komunikasi dan penanganan keadaan darurat di laut.
“Keselamatan pelayaran harus menjadi perhatian bersama. Kita tentu berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu terus memperkuat sistem keselamatan dan meningkatkan kesadaran seluruh pelaku pelayaran agar aktivitas di laut dapat berlangsung dengan aman,” pungkasnya. (*)


