Home / NEWS

Senin, 29 Juni 2020 - 21:51 WIB

Viral, Keluarga Pasein Meninggal Covid-19 di Bulukumba Buat Surat Terbuka Hingga Sebut Positif Buatan

Prosesi pemakaian pasien positif covid-19 register 123 di Dusun Parungnge Desa Manjalling kecamatan Ujungloe, Jumat (26/6/2020). [IST]

Prosesi pemakaian pasien positif covid-19 register 123 di Dusun Parungnge Desa Manjalling kecamatan Ujungloe, Jumat (26/6/2020). [IST]

BULUKUMBA, KUMANIKA.com — Jumat, (26/6/2020) lalu, masyarakat di kabupaten Bulukumba dihebohkan dengan meninggalnya salah seorang pasien positif Covid-19 yang dirawat di RSUD Sultan Dg Radja.

Menurut Jubir Satgas Covid-19 Bulukumba, Daud Kahal mengatakan, pasien meninggal dengan register kasus bernomer 123 ini sempat mendapat perawatan selama beberapa hari sebagai PDP hingga hasil tes Swab nya keluar pada hari yang sama ia meninggal dengan status positif covid-19.

Jenazah almarhum yang diketahui warga kelurahan Loka Kecamatan Ujung Bulu itu dimakamkan di Dusun Parungnge Desa Manjalling kecamatan Ujungloe, dengan protokol pemakaman Covid-19.

Belakangan, keluarga dari almarhum menemukan kejanggalan atas meninggalnya Pasien 123 ini. Hasanuddin Hamid yang merupakan anak pertama dari pasien meninggal ini bahkan membuat surat terbuka yang ditujukan ke Ketua DPRD, Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Bulukumba, Kepala Dinas Kesehatan serta Direktur RSUD Bulukumba.

Di dalam surat terbuka ada 13 poin pertanyaan yang menurut Hasanuddin Hamid janggal, hingga ia menyimpulkan almarhum ayahnya Positif Buatan.

Surat terbuka tersebut juga ia posting ke beberapa group sosial media dengan nama akun nama Cak Din beberapa waktu lalu.

Berikut isi surat terbuka:

Surat Terbuka buat:
1. Ketua DPRD Kab. Bulukumba.
2. Ketua Tim Gugus Tugas Covid 19 Blk.
3. Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba.
4. Direktur Rumah Sakit Umum Sultan Dg. Raja.

Saya, Hasanuddin Hamid adalah anak pertama laki-laki dari Almarhum Drs. Abd. Hamid Sembo. Kami sudah sangat kooperatif saat ayah kami ditetapkan PDP oleh Tim Dokter. Bahkan sampai meninggal pun, kami setuju dilakukan dengan protokoler covid. Tentunya kami pun ingin menyampaikan dan bertanya terkait hak-hak kami dan keganjilan yg kami alami setelah kematian orang tua kami yaitu:

1. Pada saat bapak saya msh kritis, kami sdh sepakat dgn dokter bahwa walaupun hasilnya blm keluar kami siap mengikuti protokoler covid pemakamannya. Dan benar adanya, beberapa menit kemudian meninggal. Yg jadi pertanyaan buat kami, mengapa tiba2 kami dapat info positif begitu meninggal? Secepat itukah?
2. Mengapa sampai saat ini kami blm menerima Surat Keterangan Kematian dari RS?
3. Mengapa sampai saat ini kami blm menerima surat keterangan bahwa orang tua kami positif covid?
4. Mengapa jenazah org tua kami di RS saat itu harus menunggu sampai pukul 16.00 wita baru dipindahkan dari ruang perawatan padahal meninggal pukul 10.00 wita?
5. Bukankah jenazah yg terkonfirmasi positif hanya butuh waktu 4 jam harus dikebumikan sementara jenazah ayah kami butuh waktu 7 jam lebih?
6. Mengapa setelah 1 x 24 jam, rumah orang tua kami tidak ada penyemprotan diisfektan?
7. Mengapa sampai saat ini tdk ada tracking kontak Almarhum?
8. Mengapa sampai saat ini tdk ada konfirmasi apakah kami akan di swab?
9. Mengapa register sampel swab bapak kami berubah-rubah dari 67 ke 57?
10. Mengapa register terkonfirmasi positif bapak kami berubah-rubah dari 100 ke 123?
11. Mengapa info dari rumah sakit bahwa sampel bapak kami di periksa di Sinjai sedangkan menurut tim gugus di Makassar?
12. Dari Cluster manakah bapak saya sedangkan sdh 2 tahun terakhir tdk keluar rumah?
13. Bukankah jenazah tdk bisa keluar RS jika tak ada surat kematian?

Dari pertanyaan-pertanyaan diatas, salahkah jika kami menyimpulkan bahwa Bapak kami sebenarnya POSITIF BUATAN?

Salam,
Cak Din

Lihat Sumber: Klik Disini!

Baca Juga:  BLT Covid-19 Desa di Bulukumba Diprotes Warga, Tahap Pertama Dapat Tahap Kedua Tidak

Sementara itu, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bulukumba melalui kepala Dinas Kesehatan, dr. Wahyuni memberikan klarifikasi beberapa poin soal surat terbuka yang dilayangkan keluarga pasien meninggal.

Melalui konferensi pers yang dilaksanakan, Senin (29/6/2020), ia menceritakan kronologi pada Jumat 26 Juni tersebut. Ia mengaku salah satu anak almarhum, Tati merupakan staf di Dinas Kesehatan (Dinkes).

Pukul 09.00 Wita, Tati menelpon ke dirinya bahwa swab almarhum ayahnya sudah diambil dan pasien dalam kondisi kritis.

Baca Juga:  Diskotek dan Panti Pijat Dibuka, Pemerintah Siapkan Protokol Kesehatan

Seketika itu, dr Wahyuni menghubungi penanggungjawab laboratorium RS Wahidin, Makassar via Whatsapp untuk segera mempercepat pemeriksaan swabnya.

Pukul 10.20, hasilnya positif dan ia meneruskan kabar itu ke anak almarhum.

“Jadi memang karena Informasi yang cepat disampaikan, dan informasi itu nyambung cepat ke RS Wahidin. Kami minta perlakukan khusus,” jelas dr Wahyuni, Senin (29/6/2020).

Sementara untuk surat keterangan kematian, menurut dr Wahyuni ada prosedur khusus yang harus dilalui sebelum mengeluarkan surat itu.

Namun kata dia, akan segera mengeluarkan dan memberikan surat itu kepada keluarga korban.

“Adapun untuk surat keterangan positif covid-19, kami sudah perlihatkan buktinya,” lanjut dia.

“Untuk keterlambatan penyemprotan atau disinfeksi, itu karena hanya dua tim yang bergerak sementara permintaan banyak sekali. Sabtu sore, kami ingin melakukan disinfeksi di kediaman almarhum, tapi pihak keluarga menolak,” papar dia.

Adapun untuk tracking kontak, ia menjelaskan telah melakukan upaya tracking dengan melalui pendekatan pola persuasif.

“Kami pernah mencoba datang ke keluarga almarhum, namun tidak diterima. Intinya tim swab kami siap, tergantung kesiapan mereka,” jelasnya lagi.

dr. Wahyuni juga menegaskan bahwa tidak ada register yang berubah, hal itu karena jelas nomor urut, angka, nama dan NIK pasien.

“Sebelum melakukan pengambilan swab sudah ada nomor register kemudian akan diinput melalui aplikasi. Terkait nomor, sampai di wahidin, ada pengelolaan spesimen khusus, disimpan dalam satu wadah, di jaga kualitasnya. Sampai di kirim, dijamin kualitasnya, termasuk keamanannya,” tambahnya lagi.

“Terkait klaster, sekarang dengan bertambahanya kasus yang ada di bulukumba, kami agak susah mengkategorikan soal itu,” jelas dr Wahyuni.

Selain itu, Direktur Rumah Sakit Bulukumba, dr Rajab menyebutkan enam jam pemindahan almarhum pasien tak menjadi masalah.

“SOP yang ada pada literatur pendapat dari pakar, bisa empat jam, 8 jam, 12 jam. Yang kami terapkan ke almarhum pasien, 6 jam lebih,” tutupnya.

Share :

Baca Juga

NEWS

Bupati Bulukumba Sebut Tak Miliki Kewenangan Beri Sanksi ASN yang Terlibat Pilkada

NEWS

Usai Acara Bakar-Bakar Ikan, Pemuda di Bulukumba Ditemukan Tewas Gantung Diri

NEWS

Tangani Covid-19, Pemkab Bulukumba Gelar Pertemuan Advokasi dan Sosialisasi

NEWS

Asuransi Pertanian Lindungi Petani Desa Nipa-nipa dari Kerugian Akibat Kemarau

NEWS

Pihak Kepolisian Evakuasi Bayi yang Ditemukan Warga di Kebun

NEWS

Jelang Lebaran Idul Adha 1441 H, Disperindag Bulukumba Antisipasi Kelangkaan Gas 3 Kg

NEWS

Pemkab Bantaeng Kerja Bakti Tangani Dampak Banjir, Bupati Hingga ASN Terlibat

NEWS

Resmikan Kampung KB Mandiri, Ilham Azikin: Komitmen untuk Kebaikan Bantaeng