Home / NEWS

Kamis, 4 Juni 2020 - 11:00 WIB

Upaya Satu Keluarga Gugat Gugus Tugas Covid-19 Sulsel, Tuntut Makam Dipindahkan

MAKASSAR, KUMANIKA.com — Andi Baso Ryadi Mappasulle (46), warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan bersama putri-putrinya berencana menggugat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel secara hukum.

Gugatan dilayangkan berkaitan dengan almarhumah Nurhayani Abram (48) istrinya yang dimakamkan di kompleks pemakaman Macanda, Kabupaten Gowa yang khusus untuk jenazah covid-19 pada pertengahan Mei lalu.

“Saat ini saya sementara mengumpulkan teman-teman pengacara yang berempati kepada saya dan keluarga untuk berikan bantuan hukum,” kata Ryadi kepada awak media di Makassar, Selasa, (2/6/2020) lalu.

Andi Baso meyakini istrinya bukanlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) covid-19. Ia mengungkapkan, istrinya meninggal dunia 15 Mei lalu itu karena stroke yang menyebabkan pecah pembuluh darah.

Andi Baso mengaku tidak terima jenazah almarhumah istrinya diperlakukan sebagai pasien covid-19, mulai dari penanganan jenazah di Rumah Sakit Bhayangkara hingga dimakamkan di pemakaman khusus covid-19 di Macanda oleh petugas tim gugus berpakaian APD lengkap, dikawal petugas kepolisian dan TNI.

Belakangan ternyata, hasil pemeriksaan Swab dari RS Bhayangkara menyatakan negatif almarhumah istrinya negatif covid-19.

“Tidak ada hak bagi tim gugus untuk menahan saya karena buktinya hasil pemeriksaan swab istri saya negatif artinya bukan PDP covid,” ujarnya.

Andi Baso Didampingi putri sulungnya, Andi Arni Esa Putri Abram (24), menceritakan, ketika istrinya meninggal, dia dan dan putri-putrinya berusaha keras untuk mempertahankan jenazah agar bisa dipulangkan dan makamkan sendiri bukan di pekuburan khusus covid-19 Macanda, Gowa.

Tapi sebaliknya, dia mengatakan, justru mendapatkan perlakukan tak semestinya dari tim gugus yang saat itu dilengkapi puluhan tentara dan polisi.

Dia mengaku nyaris diborgol, saat mencegat mobil ambulans yang membawan jenazah almarhumah istrinya dengan tidur di bawah mobil.

Putrinya juga sempet merengsek memeluk mobil ambulans hingga menaiki bagian depan mobil itu, tapi upaya tidak berhasil. Aparat keamanan itu mengangkat dan menghalangi mereka, kemudian membawa jenazah istrinya.

Tapi, sambung dia, berselang sepekan kemudian, tepatnya 22 Mei keluar hasil pemeriksaan swab yang ternyata menyatakan almarhum istrinya negatif covid-19.

Baca Juga:  28 Pesien Covid-19 Meninggal Dipastikan Tidak Dapat Santunan

Andi Baso menegaskan, karena status PDP terhadap almarhumah istrinya itu, dirinya merasa banyak dirugikan.

“Karena status PDP itu, saya dapat sanksi sosial. Dikucilkan dari keluarga, semua bisnis tidak ada yang jalan,” katanya.

“Jelas-jelas swab negatif tapi apa tindakan tim gugus, pemerintah untuk memulihkan nama baik saya, tidak ada. Jenazah istri saya harus dipindahkan. Saya akan gugat tim gugus. Biarlah kasus istri saya ini jadi penolong bagi kasus serupa yang juga jadi korban. Tidak hanya di Makassar tapi juga di daerah lain,” tambahnya.

Sementara itu Juru Bicara Tim Gugus Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel, Ichsan Mustari mengatakan, penangangan pemulasaran jenazah pasien PDP
memang harus sesuai standar covid-19. Protokol tersebut harus dilakukan untuk memutus mata rantai penularan.

Protokol pemakaman tetap harus dilakukan meski hasil tes swab belum keluar jika kondisi pasien menunjukkan gejala klinis pneumonia.

“Saya hanya mau sampaikan bahwa semua ini kita jalankan sesuai protokol dan ketentuan yang ada,” jelas Ichsan kepada awak media.

Dia melakukan perlawanan, bersama anak-anaknya mempertahankan jenazah istrinya tidak dibawa oleh petugas gugus covid ke pemakaman Macanda.

KRONOLOGI DILARIKAN KE RUMAH SAKIT HINGGA DINYATAKAN PDP

Almarhumah Nurhayani, istri Andi Baso dinyatakan meninggal setelah mengalami kelumpuhan mendadak tubuh sebelah kiri. Ketika dibawa ke RS Bhayangkara, Nurhayani dinyatakan PDP covid-19.

“Kejadiannya sore, saya tidak sedang di rumah. Hanya istri dan anak-anak. Tiba-tiba istri saya merasakan lumpuh tubuh sebelah kiri. Tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan,” kata Andi Baso.

Menurutnya, anaknya dibantu tetangga membawa sang istri ke RS Dadi tapi ditolak karena RS tersebut RS rujukan pasien covid dan akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara.

Setiba di RS Bhayangkara, Andi Baso mengungkapkan putrinya disodorkan banyak formulir yang harus diisi dan ditandatangani. Salah satu formulir itu berisi pernyataan bahwa jika terjadi sesuatu berhubungan dengan covid, keluarga bersedia ditangani sesuai protap covid.

“Putri saya sangat tahu ibunya tidak ada sejarah bisa kena covid. Karena selama merebak covid tidak pernah keluar rumah kecuali membeli kebutuhan keluarga. Tapi karena panik, dia tandatangani surat pernyataan itu. Kalau tidak ditandatangani, istri saya tidak akan ditangani,” ungkap Andi Baso.

Baca Juga:  Bupati Bulukumba Lolos Dari Jeratan Pelanggaran Pilkada

Sempat diinfus dan dirontgen, demikian penanganan medis yang diterima Nurhayani, tapi masih mengeluhkan sakit di bagian kepala. Akhirnya Nurhayani dinyatakan meninggal pukul 23.55 WITA sekitar dua pekan lalu.

Andi Baso baru tiba di RS pukul 01.30 WITA dan meminta putrinya untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit dan menanyakan berapa total biaya rumah sakit agar jenazah segera dibawa pulang.

“Sepulang dari ketemu petugas rumah sakit, putri saya menangis. Katanya jenazah ibunya tidak bisa dibawa pulang karena dinyatakan PDP. Lalu masuk petugas mengambil sampel swab di hidung dan tenggorokan di jenazah istri saya. Saat itu saya bertahan hingga subuh hari agar istri saya tidak ditangani, tidak dikuburkan sesuai protokol covid,” papar Andi Baso.

Tidak lama kemudian, datanglah petugas dengan APD lengkap. Andi Baso mengaku, sikapnya baru melunak setelah diantara petugas itu ada yang mengajak untuk bicara baik-baik. Dia menerima jenazah istrinya ditangani sesuai protokol covid tapi jenazah harus dibawa untuk dikuburkan sendiri.

Saat proses pemakaman, dia tidak diizinkan untuk mendekat. Setelah pemakaman selesai, petugas-petugas itu langsung pergi, tak satu pun yang menemui dirinya.

“Pikiran saya kalau istri saya dinyatakan PDP, kenapa saya dan anak-anak tidak ditemui untuk diperiksa. Kami itu berinteraksi dengan almarhumah, paling tidak kami ini ODP. Tapi ternyata tidak ada tindakan lebih lanjut hingga akhirnya keluar hasil tes swab istri saya yang dinyatakan negatif,” ujar Andi Baso

MENUNTUT JENAZAH DIPINDAHKAN

Meski demikian, Andi Baso Ryadi Mappasulle tetap minta jenazah almarhumah istrinya dipindahkan.

“Sekarang saya akan menggugat, meminta jenazah istri saya untuk dipindahkan dari pekuburan Macanda itu,” tukasnya.

“Istri saya meninggal dunia karena stroke. Hasil pemeriksaan swab juga negatif. Saya akan memperjuangkan untuk mengambil dan memindahkan jenazah istri saya meski harus sampai ke pengadilan,” pungkasnya.

Share :

Baca Juga

NEWS

Upaya Kembangkan Kompetensi Guru, Ini yang Dilakukan PGRI Bantaeng

NEWS

Andi Makkasau Kembali Nahkodai KONI Bulukumba

NEWS

Aset Tersangka Kredit Fiktif Disegel, Puluhan Karyawan Terdampak

NEWS

Aset Pemerintah di Bongkar Oknum tak Bertanggungjawab

NEWS

Bupati Tegaskan Tidak Ada Tendensi Politik Dalam Tindaklanjut Rekomendasi KASN

NEWS

KNPI Bulukumba Usulkan 7 Nama Untuk Dewan Pendidikan
Bahas Soal Ibu dan Anak, FORMAP-KIA Bulukumba Perkuat Kapasitas OMS

NEWS

Bahas Soal Ibu dan Anak, FORMAP-KIA Bulukumba Perkuat Kapasitas OMS

NEWS

Dorong Pertanian Alami, Bupati Bantaeng Bagi-bagi Pupuk Organik