Home / NEWS

Jumat, 5 Februari 2021 - 15:19 WIB

Selain Ekonomi, Covid-19 Berdampak Pada Ketersediaan Darah di Rumah Sakit

ILUTRASI

ILUTRASI

BULUKUMBA, KUMANIKA.com– Covid-19 cukup memberikan efek yang luar biasa dibeberapa sektor. Selain berdampak pada ekonomi, sektor kesehatan juga menjadi sektor sasaran utama Covid-19. Dimasa pandemi saat ini, sektor kesehatan cukup kewalahan mendapatkan stok darah untuk digunakan dalam proses emergency.

Seperti halnya kasus kematian ibu melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Dg Radja. Minimnya stok darah yang tersediah mengakibatkan pesien terlambat mendapatkan transfusi darah.

Sumrah (33) warga Desa Bontonyeleng, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Meninggal dunia setelah menjalani proses kelahiran anak pertamanya.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur RSUD Sultan Dg Radja dr Risal, saat dikonfirmasi kumanika.com. Membenarkan jika pesien meninggal karena terlambat mendapatkan transfusi darah.

Ia menjelaskan jika pesien mengalami pendarahan akibat Atonia Uteri atau proses perdarahan pasca bersalin. Keadaan seperti itu diakibatkan tidak adanya kontraksi pada rahim sehingga pembuluh darah terbuka dan mengakibatkan pendarahan.

“Pesien membutuhkan transfusi darah sebanyak 8 kantong. Hanya saja, stok yang tersedia hanya 2 kantong yang mengakibatkan pesien kehabisan darah dan meninggal dunia”, ungkapnya.

Sumrah diketahui merupakan pasien rujukan dari Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Bontonyeleng, Kecamatan Gantarang. Ia berada di rumah sakit pada hari Rabu, 3 Januari sekitar pukul 16.00 Wita dalam keadaan pembukaan lengkap.

Baca Juga:  Polisi Periksa Oknum Dokter dan Bidan RSUD Bulukumba

Dua jam atau sekitar pukul 18.00 Wita setelah dirujuk, Sumrah berhasil melahirkan bayi laki-laki dengan bobot 3,9 kilogram. Berselang sejam pasca melahirkan, sekitar pukul 19:00 pasien mengalami perdaraahan sehingga dilakukan Informed Consent kepada keluarga pasien.

“Pesien meninggal sekitar pukul 01:30 WITA karena kehabisan darah. Janin dan plasenta lahir lengkap dan lancar. Tapi setelah itu tiba-tiba tidak ada kontraksi rahim. Sehingga pembuluh darah terbuka dan terjadi perdarahan hebat,” jelas dr Risal.

Setelah dilakukan Informed Consent kepada keluarga pasien. Dua dokter ahli yang menagani pesien memutuskan untuk melakukan pengangkatan rahim dengan tujuan menghentikan pendarahan. Dengan modal stok darah yang minim.

“Masalahnya memang kita kekurangan stok darah. Itu pun kami telah menggunakan dua kantong persediaan darah dari pasien lainnya, tapi masih kurang. Dari pihak keluarga juga sudah transfusi darah tapi sudah terlambat,” beber dokter Obgyn ini.

Meski demikian, masalah kurangnya stok darah di RSUD, diakui dr Risal lantaran kurangnya pendonor darah ditengah masa pandemi saat ini. “Sudah kurang masyarakat yang mau donor darah. Mungkin juga karena situasi pandemi Covid-19 yah,” ujarnya.

Baca Juga:  Melihat Potensi Bulukumba, DPRD Bombana Kunker Ke Pemda Bulukumba

Untuk menghindari terjadinya hal serupa, dr Risal mengimbau masyarakat khususnya ibu hamil untuk penyiapkan pendonor jauh sebelum ibu hamil menjalani proses persalinan. Sehingga darah yang dibutuhkan tersediah sebelum hari persalinan tiba.

“Kami berherap masyarakat, khususnya ibu hamil bisa lebih siap dalam menghadapi persalinan mulai dari kontrol kandungan sampai pada mempersiapkan pendonor darah sebelum masa persalinan,” himbaunya.

Diketahui, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulukumba telah menerapkan program yang mengharuskan setiap ibu hamil untuk menyiapkan pendonor. Hanya saja penerapan program tersebut masih belum maksimal sehingga masyarakat terkadang mengabaikan himbauan tersebut.

Terpisah, kerabat almarhuma Sumrah, inisial ND (31) mengaku syok mendengar kabar berpulangnya Sumrah. Dia menganggap dalam proses persalinan, dokter terkesan memaksakan kekuatan pasien. Seluruh keluarga berharap pasien bisa dioperasi karena riwayat janin yang besar.

“Ibunya lahiran normal padahal harusnya sesar. karena janinya besar,” ungkapnya.

Menurut ND, Sumrah menghembuskan nafar terakhir akibat kehabisan darah usai menjalani operasi pengangkatan rahim pasca melahirkan.

“Jadi dokter terkesan memaksakan pasien melahirkan normal sehingga pada saat proses lahiran, pasien dibantu dengan vacum sebanyak dua kali hingga rahim robek,” pungkasnya.

Reporter: IHM

Share :

Baca Juga

NEWS

Ibis Style Makassar, Sediakan Paket Menu Buka Puasa Untuk Kaum Duafa

NEWS

Update Corona di Indonesia 7 Juni: Pasien Sembuh Tembus 10.498 Orang

NEWS

Dua “Nyawa” Melayang Saat Polisi Gerebek Lokasi Judi Sabung Ayam di Bulukumba

NEWS

Didesak Tuntaskan Kasus Korupsi, Kejari Bulukumba Akui Semuanya Sedang Diproses Hukum

NEWS

Bukan Program Bantuan, Bupati Bulukumba Ingin Program Pemerintah Monumental

NEWS

30 Ribu Vaksin Sinovac Tiba di Sulsel, Bulukumba Belum Terima Jadwal Penerimaan

NEWS

[VIDEO] Isak Tangis Iringi Pemakaman YW, Kasus Kematian Pertama Covid-19 di Bulukumba

NEWS

235 CPNS Bulukumba Diingatkan Tidak Ikuti Politik Praktis