Home / PARIWISATA

Senin, 26 April 2021 - 04:21 WIB

Resah Dengan Konsep Wisata Yang Ada, Hingga Membuat Wisata Alternatif

Owner Dego Dego na Bira, Indiz Essa Rutepar.

Owner Dego Dego na Bira, Indiz Essa Rutepar.

BULUKUMBA, KUMANIKA.com— “Saya menyadari bahwa Bulukumba pada umumnya, Bira pada khususnya memiliki potensi alam yang jauh lebih unggul jika dibandingkan dengan daerah lain, misalnya Jawa, Bali, dan beberapa lokasi wisata di Indonesia yang sudah punya nama,” kata owner Dego Dego na Bira, Indiz Essa Rutepar.

Menurutnya, ide awal membuat wisata alternatif karena faktor kekhawatiran dan kegelisahan dengan konsep wisata yang ada kurang cocok. Misalnya peredaran Bir atau minuman keras yang dijual bebas hingga dengan mudahnya bisa ditemukan, ibu-ibu berhijab jualan bir yang membuat Indiz agak miris.

“Tahun 2012-2015 awal protes atas keadaan yang ada, puncaknya ketika beberapa teman terjerat, misalnya narkoba. Kita tambah yakin untuk membuat wisata alternatif, namanya belum ada pada saat itu, baru terpikir membuat wisata,” beber pria yang hobi traveling ini.

Indiz menerangkan pada 2015/2016 muncul solusi atas keresahan. Kemauannya untuk punya lokasi wisata, namun hanya sekadar angan-angan, yang kemudian dipecah menjadi target kembali, hingga pada akhirnya berani mengambil risiko untuk membeli sebuah lahan.

Baca Juga:  Kembangkan Kuliner Khas Bira, Inovasi Usaha Pariwisata Dimasa Pandemi

Ia menambahkan, kita mau salahkan juga tidak bisa, kita mau protes hasilnya akan kosong. Jadi sebagai solusi atas masalah dan kritikan yang kami sampaikan adalah kita buat wisata alternatif, yang lebih dekat dengan agama, tidak juga melanggar norma tapi tetap fun dan dapat tujuan dari pariwisata itu sendiri, untuk refreshing, jalan-jalan, dan sebagainya.

“Sebenarnya awal Dego Dego na Bira tidak memakai modal yang banyak. Membuat wisata alternatif butuh lahan, beli lahan butuh modal, maka tidak ada jalan lain. Kebetulan saat itu (2018) ada sedikit tabungan sebenarnya untuk persiapan menikah “uang panai” sekitar 10-11 juta. Dari modal itu, saya Bismillah untuk DP beli lahan Dego Dego,” ungkap bapak beranak satu ini.

Menyicil lahan, merintis jalan dengan melibatkan banyak orang, tokoh masyarakat secara swadaya, melakukan perbaikan dan pembangunan secara perlahan dengan modal yang seadanya dilakukan pria lulusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar.

Baca Juga:  Legislator PKB Kembalikan Dana Rp 150 juta

Membangun Dego Dego dengan sebagian besar menggunakan bahan-bahan limbah, baik itu limbah dari tempat pemotongan kayu, kayu hanyut di pantai, dan beberapa limbah lainnya untuk menunjang fasilitas kebutuhan wisatawan.

Merintis wisata alternatif, pemuda desa Darubiah ini memiliki prinsip yaitu, setiap hari harus ada progres meskipun istilahnya cuma satu buah batu yang pindah tidak masalah ya penting ada progres, dan tidak mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi memberikan kebahagiaan yang seluas-luasnya untuk semua kalangan.

Indiz memiliki mimpi Dego Dego na Bira bisa menjadi wisata alternatif yang tetap patuh pada norma dan aturan agama, tapi tidak mesti disikapi dengan kekakuan, fleksibel saja yang jelas menurutnya tidak melanggar norma dan agama.

Reporter: Devi

Share :

Baca Juga

PARIWISATA

Monaco Jadi Referensi Pengembangan Pariwisata Bulukumba

PARIWISATA

Sambut Hari Pariwisata Sedunia, WTD Sukses Letakkan Replika Pinisi ke Dasar Laut Bira

PARIWISATA

Dispar Bulukumba Peringkat Tiga Peduli Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

PARIWISATA

Kilas Balik Pandemi Covid-19 Terhadap Pariwisata Bulukumba

PARIWISATA

Promosi Pariwisata Bulukumba Skala Internasional, Dispar Rencana Ikuti BBTF 2021

PARIWISATA

Expose Pariwisata, Dispar Bulukumba Tekankan Konsep Terpadu

PARIWISATA

HUT PHRI ke-52, ini harapan Ketua PHRI BPC Bulukumba

PARIWISATA

Kunjungan Wisnus ke Bulukumba Meningkat Selama Pandemi