Home / NEWS

Senin, 12 April 2021 - 16:02 WIB

Program TPB Belum Jelas, Pemerintah Diingatkan Soal Pentingnya DED Drainase dan Banjir

Konsultan Perencana dan Pengawasan Bangunan Infrastruktur dan Lingkungan, Ir. Saleh Rais

Konsultan Perencana dan Pengawasan Bangunan Infrastruktur dan Lingkungan, Ir. Saleh Rais

BULUKUMBA, KUMANIKA.com— Dalam menangani permasalahan banjir, Bupati Bulukumba, Muchtar Ali Yusuf telah membentuk Tim Pengendali Banjir (TPB) pada bulan Maret lalu. Namun sampai saat ini penanganan yang dilakukan tanpa didasari oleh Detail Engineering Design (DED) pengendalian banjir.

“Saya belum liat apa program dari tim penanganan banjir. Yang jelas, harus dipahami bahwa dari lima lokasi daerah genangan (Bentenge, Kasimpureng, Kalumeme, Caile dan Ela-ela), banjirnya lebih banyak disebabkan oleh pasang surut air laut,” pungkas Konsultan Perencana dan Pengawasan Bangunan Infrastruktur dan Lingkungan, Ir. Saleh Rais, Senin (12/4/2021).

Ia menambahkan, artinya elevasi sebagian permukaan tanah pada daerah tersebut sama atau lebih rendah dari pasang air laut tertinggi akibat curah hujan yang tinggi di daerah Gantarang dan kota Bulukumba dan mengalir ke laut melalui sungai Bialo.

Menurutnya, jika DED masalah banjir, berarti DED sarana penanganan banjir yaitu drainase, talud sungai, kolam retensi dan polder.
Khusus untuk kota Bulukumba, yang prioritas adalah review drainase dan talud sepanjang sungai Bialo yang membelah kota Bulukumba dan saluran primer dari daerah Taccorong serta tanggul pantai, khususnya pada daerah yang elevasi permukaan tanahnya lebih rendah atau sama dengan air pasang tertinggi permukaan laut.

Untuk menyusun DED, pria berlatar belakang pendidikan Teknik Sipil ini mengatakan, data sekunder dan primer yang dibutuhkan adalah curah hujan, elevasi permukaan tanah, luas wilayah/cathment area, titik genangan, elevasi pasang surut muka air laut dan debit sungai Bialo pada musim kemarau dan hujan.

Baca Juga:  Pemkab Bulukumba Sebar 4000 Pohon di Tiga Kecamatan

Dari data tersebut lanjutnya, kita bisa menentukan dimensi drainase secara keseluruhan, konstruksi talud sungai, dan tanggul pantai pada daerah yang permukaan tanahnya lebih rendah dari muka air laut pada saat pasang.

Menurut konsultan asal Desa Ara ini, DED drainase dan banjir kota Bulukumba yang sudah ada sejak Zainuddin Hasan menjabat Bupati bisa saja mejadi acuan, tapi tetap harus dikaji ulang berdasarkan data curah hujan, elevasi permukaan tanah, luas daerah genangan, luas daerah yang dilayani atau cathment area dan elevasi muka air laut pada saat pasang.

“Berdasarkan data itu, kita bisa menentukan dimensi drainase. Kalau dimensi drainase lebih besar berdasarkan kajian DED tadi, maka drainase yang dikerja pada masa Zainuddin Hasan, harus diperbaiki atau dikerja ulang sesuai DED terbaru,” tegas pria yang pernah merancang DED TPA Bulukumba tahun 2015 dan mendapat Adipura.

Rais, sapaannya, menjelaskan kondisi Bulukumba sekarang menghadapi permasalan banjir yaitu pertama sarana yang ada belum maksimal. Karena drainase yang ada belum bisa mengalirkan air genangan secara cepat dengan sistim gravitasi khususnya pada lima lokasi daerah genangan tersebut, dengan luas genangan kurang lebih 16,9 ha ketinggian 30-40 cm.

Kedua, kata dia, sarana lainnya adalah sistim proteksi pada sungai Bialo dengan panjang 52 km yang membelah kota Bulukumba belum di proteksi talud sehingga sepanjang sungai yang ada di dalam kota Bulukumba meluap khususnya pada daerah bantaran sungai.

Baca Juga:  Bukan ke Bupati Bulukumba, Petani Mengeluh ke H Askar

“Untuk mengatasi permasalahan diatas, yang jelas harus ada kajian berdasarkan data sekunder dan primer seperti daerah aliran sungai (DAS), curah hujan maximum rata-rata, menentukan metode distribusi, menentukan curah hujan periode ulang tertentu dan debit banjir rencana. Karena salah satu penyebab banjir adalah curah hujan yang cukup bahkan sangat tinggi sehingga air dari daerah ketinggian di sekitar Bulukumba kota akan mengalir masuk kota Bulukumba melalui sungai bialo dan drainase primer existing,” bebernya saat diwawancarai.

Dia melanjutkan, dengan curah hujan yang tinggi, maka sungai Bialo akan meluap sepanjang sungai yang membelah kota Bulukumba termasuk drainase primer sepanjang jalan nasional dari daerah Taccorong. Hal ini ditambah dengan air laut pasang. Untuk mengatasi meluapnya sungai bialo, harus dibuat talud yang berfungsi sebagai sloef protection sekaligus tanggul pada dua sisi sungai dengan konstruksi sesuai DED sepanjang sungai sampai ke laut, dimensi drainase sesuai DED dan membuat tanggul pantai pada daerah yang permukaan tanahnya lebih rendah atau sama tinggi dengan elevasi muka air laut pasang.

“Hal lainnya adalah pendistribusian air secara tepat mulai drainase primer, sekunder, tersier merata ke seluruh kota Bulukumba,” tutup Saleh Rais.

Reporter: Devi

Share :

Baca Juga

NEWS

Bupati Bersama Wagub Sulsel Hadiri Jambore SDM PKH di Tanjung Bira

NEWS

Respons Keluhan Peternak di Tellu Limpoe, Bupati ASA Tegaskan Pelayanan IB di Sinjai Gratis

NEWS

Bupati Bantaeng Ucapkan Duka untuk Sulbar, Siapkan Bantuan untuk KorbanĀ 

NEWS

Polres Kepulauan Selayar Turunkan Porsenil Untuk Pantau Pilkada 2020

NEWS

Dorong Pertanian Alami, Bupati Bantaeng Bagi-bagi Pupuk Organik

NEWS

KKB Akan Kerahkan Seluruh Perantau Rutin Berinfak Di Baznas

NEWS

Dua Tahun ILHAMSAH Pimpin Bantaeng, Petani: Terimakasih Pak Bupati

NEWS

Usai Acara Bakar-Bakar Ikan, Pemuda di Bulukumba Ditemukan Tewas Gantung Diri