Pesan Cinta dari Tuli untuk Bulukumba Lewat Setangkai Bunga

Pesan Cinta dari Tuli untuk Bulukumba Lewat Setangkai Bunga

BULUKUMBA, KUMANIKA.com– “Tuli adalah identitas,” ujar penerjemah bahasa isyarat Tuli di Kabupaten Bulukumba, Ita Mufrita, sesaat setelah gelaran bagi-bagi bunga berlangsung, pada Kamis (23/9/3021) sore.

Kegiatan itu dilakukan di Jalan Jendral Sudirman, Kecamatn Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, dengan mengumpulkan kurang lebih 30 orang Tuli untuk turun langsung ke jalan, berbaur dengan masyarakat.

Menggunakan kaos putih seragam, mereka membagikan bunga mawar sintetis berwarna senada. Bunga tersebut merupakan karya tangan mereka sendiri dan dibagikan kepada pengguna jalan yang melintas.

Pesan Cinta dari Tuli untuk Bulukumba Lewat Setangkai Bunga
Teman-teman Tuli saat membagikan bunga mawar kertas putih buatan tangan sendiri kepada para pengguna jalan yang melintas. Foto: Nia

Setiap tangkai bunga yang diberikan langsung kepada masyarakat, terselip pesan cinta dalam selebaran berisi informasi tentang Tuli. Di sana juga tertulis jelas tentang teknik etika dalam berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, untuk berbicara dengan teman-teman Tuli secara mudah.

Baca Juga:  Bupati Bulukumba Minta PGRI Bangun Suasana Dialogis

Isyarat merupakan salah satu bentuk bahasa visual, menggunakan gerakan tangan dan tubuh untuk menyampaikan makna. Dengan cara inilah teman-teman Tuli berkomunikasi.

Bagi-bagi bunga ini merupakan salah satu dari serangkaian acara Pekan Tuli, dalam peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional yang jatuh tepat pada tanggal 23 September. Kegiatan ini sekaligus sebagai sarana untuk memperkenalkan bahasa isyarat kepada masyarakat luas.

Lewat pesan itu pula, teman-teman Tuli secara langsung memantik kesadaran masyarakat akan pentingnya bahasa isyarat, dalam mewujudkan hak asasi manusia bagi semua kalangan. Hal tersebut juga mempermudah teman-teman Tuli untuk berbaur dan berakrivitas di luar rumah.

Pesan Cinta dari Tuli untuk Bulukumba Lewat Setangkai Bunga
Teman-teman Tuli saat berpose di depan Bundaran Phinisi, Bulukumba dalam kegiatan Pekan Tuli. Foto: Nia

“Ini merupakan event pertama yang teman-teman Tuli lakukan. Mereka nampak sangat bahagia dan lebih percaya diri,” ujar Ita, sambil menatap teman-teman tuli yang masih membagikan bunga.

Baca Juga:  Arti Penting Pendidikan Bahasa Inggris Untuk Anak Usia Dini

Perempuan asal Desa Benteng Malewang, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba itu juga bilang bahwa dalam segala keadaan, teman-teman Tuli adalah orang-orang yang butuh pendekatan komunikasi khusus.

“Tuli, mendengar menggunakan mata dan berbicara menggunakan tangan,” ujarnya diiringi tersenyum.

Sebagai salah satu dari Tuli, Imma (48) mengaku sangat senang bisa bertemu dan berkumpul bersama sesamanya. Kini, Imma merasa lebih percaya diri dan dihargai, karena bukan hanya dalam kelompoknya, namun dia juga bisa bercengkrama dengan dunia secara luas.

“Kami merasa dirangkul. Kami merasa tersambung dengan dunia. Kami dihargai dan dianggap ada. Serta mampu menjadi bagian dari dunia,” katanya melalui gerakan tubuh sebagai bahasa isyarat, yang kemudian diterjemahkan oleh Ita.

Penulis: Nia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Education Template