Home / HUKUM

Kamis, 30 September 2021 - 11:49 WIB

Penyuluhan Penanggulangan Terorisme di Polda Sulsel Hadirkan Napiter sebagai Narsum

Penyuluhan penanggulangan terorisme/ radikalisme, dan intoleransi di Aula Mappaoddang Polda Sulsel, Rabu (29/09/2021). Foto: Dokumentasi Istimewa

Penyuluhan penanggulangan terorisme/ radikalisme, dan intoleransi di Aula Mappaoddang Polda Sulsel, Rabu (29/09/2021). Foto: Dokumentasi Istimewa

BULUKUMBA, KUMANIKA.com– Napi mantan teroris (Napiter), bersama FKPT Sulsel dan Mabes Polri, menjadi Narasumber pada penyuluhan penanggulangan terorisme/ radikalisme, dan intoleransi di Aula Mappaoddang Polda Sulsel secara luring sekaligus daring via zoom meeting, Rabu (29/09/2021).

Napiter yang dihadirkan adalah Ustaz Zainal Anshory, seorang mantan pentolan JAD sebagai kelompok simpatisan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang diprakarsai Aman Abdurrahman pada tahun 2015. Lelaki ini pernah mendukung kelompok yang sudah dikategorikan sebagai kelompok teror. Bahkan, Ia pernah diangkat sebagai “amir” dalam kelompok tersebut.

Ia menyampaikan bahwa terorisme diawali dengan paham intoleran, kemudian beranjak menjadi radikal, sampai menjadi teroris. Ustasz Zainal Anshory juga menceritakan bagaimana situasi yang dialaminya saat digembeleng dalam sebuah kajian, sebelum menjadi teroris. Pada masa itu, Ia diajarkan untuk menganggap diri paling benar dan yang lain salah. Oleh karena itu, Ia berharap agar masyarakat saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada di masyarakat.

Selain Napi Teroris, Kemenag Sulsel dan FKPT Sulsel juga hadir sebagai narasumber perwakilan Mabes Polri. Sedangkan peserta berasal dari penyuluh agama, Kapolres se-Sulsel, dan pihak Polda Sulsel.

Berdasarkan hasil penelitian BNPT/FKPT tahun 2000, tentang Literasi Digital terhadap 500 responden di sejumlah Kabupaten/Kota se-Sulsel, menunjukkan sumber informasi keagamaan yang terbanyak diakses responden, atau perilaku digital responden dalam mencari informasi keagamaan melalui internet sebanyak 82%. Perantara media yang digunakan yakni Youtube (78,3%), FB/Twitter (47,6%), Narasi tulisan/buku (38%), dan melalui audio (7%).

Baca Juga:  Kasus BOK di Limpahkan Pengadilan, Oknum Legislator Aktif Diduga Terlibat

Dari angka-angka tersebut, artinya masyarakat lebih banyak memperoleh informasi keagamaan melalui media sosial daripada langsung dari tokoh agama.

Berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan oleh FKPT Sulsel juga dipaparkan, termasuk internalisasi nilai agama dan budaya di Sekolah, untuk menumbuhkan moderasi beragama. Demikian pula kegiatan terkait perempuan sebagai agen perdamaian, dan kegiatan FKPT Sulsel bersama KNPI serta UMI melalui Webinar Nasional, juga berbagai kegiatan FKPT lainnya.

Ketua Tim Mabes Polri, dalam Sambutan pembukaan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan program prioritas Polri yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Napi Terorisme dari Mabes Polri.

Sedangkan dalam sambutan Kapolda Sulsel, yang diwakili Direktur Pemberdayaan Masyarakat Polda Sulsel, mengemukakan jika kegiatan tersebut diikuti 25 Polres via zoom, serta penyuluh agama secara Luring.

“Kita kedatangan Tim Penyuluhan Mabes Polri. Hal ini dilaksanakan sebab akhir-akhir ini masih sering terjadi tindakan radikalisme/ terorisme, termasuk kejadian terakhir pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar,” jelasnya.

Keterlibatan semua pihak dianggap akan meminimalisir tindakan radikalisme dan terorisme. Tujuan kegiatan ini juga untuk mencegah meluasnya paham radikalisme, terorisme, dan intoleran. Maka dibutuhkan sinergitas aparat dan tokoh agama, sebagai mitra Polri, untuk menciptakan keamanan secara kondusif.

Baca Juga:  Ditangkap Karena Ganja, Dwi Sasono: Saya Ingin Pulang

“Pemerintah dan masyarakat harus bekerjasama dalam mencegah radikalisme dan terorisme,” sambungnya. Ia melanjutkan, selain melakukan pertemuan secara luring maupun daring, tim Mabes Polri juga melakukan kunjungan ke Pesantren di Sulsel.

Kabid Penelitian FKPT Sulsel, Dr.M.Ishaq Shamad yang mewakili Ketua FKPT Sulsel, Dr. KH. Muammar Bakry, menyampaikan apresiasi atas prakarsa kegiatan tersebut. Menurutnya, hal tersebut memang menjadi salah satu program FKPT Sulsel untuk senantiasa melakukan pencegahan terorisme kepada masyarakat.

Sementara itu Dr. KH. Kaswad Sartono, dari Kanwil Kemenag Sulsel, memaparkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 275 jutaan penduduk dengan akar budaya yang berbeda-beda.

“Keunikan Bangsa Indonesia memiliki agama dan kepercayaan yang beragam, tetapi menghormati dan bisa bekerjasama dalam perbedaan. Ini adalah talenta Bangsa Indonesia.Telah banyak prestasi diperoleh dalam menata kerukunan umat beragama di Indonesia,” ujarnya.

Atas dasar keragaman tersebut, Menteri Agama RI telah mencanangkan Tahun 2022 sebagai Tahun Toleransi Umat Beragama. Dengan demikian, maka Bangsa Indonesia diharapkan mmapu meyakini perbedaan dan keniscayaan, serta menghormatinya.

Penulis: Nia

Share :

Baca Juga

HUKUM

Tujuh Anak Buah John Kei Belum Tertangkap, Polisi: Masih Pengejaran

HUKUM

Polisi Periksa Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba

HUKUM

Perayaan Hari Raya Idul Adha 1442 H, Polres Bulukumba Potong 10 Ekor Sapi

HUKUM

Didemo Mahasiswa, Polisi Segera Gelar Perkara Kasus Gadis Tewas Tergantung

HUKUM

Gegara Sengketa Lahan Dua Warga Ditikam di Bulukumba, Satu Tewas

HUKUM

Polisi Pidanakan Pengambilan Paksa Jenazah Terindikasi Covid-19

HUKUM

OTT KPK, PT Agung Perdana Bulukumba Pernah Berperkara di KPPU

HUKUM

Gaji Tak Dibayar, Motif Pembacokan Pegawai RSUD Bulukumba Hingga Tewas