Home / LAINNYA

Senin, 12 April 2021 - 22:54 WIB

Internalisasi Nilai Iman Dalam Menyongsong Ramadhan di Tengah Pandemi

Muh. Nursin Kamaruddin

Muh. Nursin Kamaruddin

Oleh: Muh. Nursin Kamaruddin
Alumni Pondok Pesantren Babul Khaer

KUMANIKA.com— Perasaan gembira dan bahagia tentu dirasakan oleh hampir seluruh kaum muslimin di seantero dunia. Mengingat Ramadhan sebagai bulan suci dan bulan yang sangat dinanti-nantikannya itu sudah di depan mata. Terutama sekali kaum muslimin yang ada di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Diketahui berdasarkan apa yang disampaikan oleh ketua MPR RI Bambang Soesatyo dari data Global Religius Futures melalui media detiknews bahwa pada tahun 2020 pemeluk Islam di Indonesia jumlahnya mencapai mencapai sekira 229,6 juta jiwa atau 87,2℅ dari total jumlah penduduk Indonesia yang ada.

Dari sini saja tampak secara kuantitas bahwa Indonesialah sejatinya yang patut menyambut Ramadhan dengan penuh meriah dan gegap-gempita. Namun barangkali harapan untuk menyongsong bulan suci Ramadhan dengan semarak sebagai tahun-tahun sebelumnya agaknya buyar.

Mengingat Indonesia hingga kini masih berada pada pusaran pandemi yang sangat mencekam yang tentunya juga sangat berdampak pada semua lini kehidupan. Sehingga hal ini kemudian yang memaksa pemerintah harus mengambil langkah membatasi sejumlah aktivitas di luar rumah yang dinilai tak begitu penting.

Seperti diketahui semenjak awal pandemi ini merebak di Indonesia terhitung sejak 2 Maret 2020 yaitu saat presiden Jokowi bersama jajarannya mengumumkan kasus pertama positif COVID-19 di Indonesia, ada dua orang WNI yang terinfeksi virus Corona, yakni seorang ibu (64) dan anak (31) di Depok, Jawa Barat.

Situasi ini pun menjadi awal kepanikan bagi masyarakat Indonesia. Yakni semenjak dari pertama kali wabah ini muncul hingga rentang waktu perjalanannya yang kini sudah genap setahun. Apalagi sebelumnya dikabarkan bahwa pandemi ini memang telah memporak-porandakan negara yang sehebat dan sekuat negeri Tirai Bambu (Tiongkok) yang dikenal sebagai raksasa Asia sekaligus menjadi episentrum awal pandemi tersebut.

Bahkan sempat dilaporkan sejumlah aktivitas perekonomian yang ada di sana pun lumpuh total hingga banyak menelan kerugian. Belum lagi korban jiwa yang jumlahnya sangat fantastis. Lalu tidak butuh waktu lama, terdengar pula kabar bahwa pandemi tersebut telah berhasil bermutasi ke Korea Selatan negara yang sangat familiar ditelinga dengan julukan negeri gingseng. Dan dari sanalah kemudian berawal segala ketakutan dan kekhawatiran itu hingga merebak ke seantero dunia. Termasuk Indonesia.

Diketahui sebelumnya bahwa pemerintah telah mengambil langkah antisipatif yaitu pembatasan sejumlah aktivitas di luar rumah, apalagi aktivitas yang dianggap tidak terlalu penting guna membendung penyebaran virus menjalar lebih luas.

Akibatnya banyak orang yang menderita kehilangan mata pencaharian, aktivitas belajar mengajar mandek, bahkan aktivitas ibadah pun sempat dibatasi. Sehingga kepanikan masyarakat pun kian menjadi- jadi ditambah lagi munculnya sejumlah pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat terkait langkah yang diambil oleh pemerintah. Lantaran langkah ini dinilai dapat mencekik bahkan bisa membunuh masyarakat secara perlahan-lahan.

Sementara itu, kondisi ini terus berlanjut mencengkram negeri ini hingga kini. Bahkan terlihat belum ada tanda-tanda kepulihan sama sekali. Karenanya Ramadhan tahun lalu saja sudah sangat terasa kehilangan momentum ke semarakan dan gegap-gempita penyambutan Ramadhan. Seperti festival takbir keliling, arak-arakan serta acara meriah lainnya yang notabenenya sudah menjadi tradisi tahunan bagi masyarakat muslim Indonesia jelang kedatangan bulan suci.

Baca Juga:  OPINI: Inkonsistensi dan Keteledoran Bupati Bulukumba pada Pandemi Covid-19

Namun sebagai orang yang beragama, melihat kondisi tersebut tentu tidaklah hanya tok selalu mengedepankan akal pikiran. Namun yang paling penting adalah melihatnya dari perspektif iman.

Kalaulah apa-apa selalu mentok pada akal saja, maka jatuhnya selalu hitung-hitungan dan untung rugi. Dan pada akhirnya banyak berkeluh kesah, menyalahkan keadaan atau kalau tidak mencari kambing hitam. Jadinya bukannya ada solusi, namun justru malah akan menambah beban baru bagi kehidupan. Yaitu semakin meningkatnya tingkat stress dan frustasi.

Akan tetapi bilamana menilainya dengan kacamata agama (iman), sudah barang pasti akan selalu menyikapinya dengan bijak dan dengan penuh lapang dada. Sehingga apa pun yang terjadi termasuk wabah ini akan selalu ditakutkannya kepada Yang Maha Kuasa. Maha Pencipta segala makhluk.

Tidak hanya sebatas pada materi dan kebendaan belakang. Selain itu juga, dengan iman tentu akan menuntun setiap orang yang beriman kepada sebuah keyakinan yang kokoh bahwa tiap- tiap yang terjadi di muka bumi ini bahkan sampai sehelai daun pun yang luruh dari pangkalnya melainkan atas kehendak dan atas izinnya.

Bahkan akan sampai pada sebuah keyakinan bahwa setiap yang terjadi adalah sebagai sebuah batu ujian dari sang Maha Kuasa, guna merontokkan dosa-dosa, atau untuk mendulang pahala yang besar atau sebagai pengangkat derajat disisiNya.

Maka melihat sesuatu dengan perspektif iman bukan saja akan mengetuk ibadah manusia yang berdimensi vertikal, akan tetapi juga akan mengetuk ibadah manusia yang berdimensi horizontal (sosial).

Sebab adanya kesadaran total yang terlahir, kepekaan, simpati, serta empati dari jiwa yang dipenuhi dengan iman yang berpangkal pokok pada salah satu prinsip iman bahwa antara orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, sehingga wajiblah satu sama lain untuk saling mengasihi, peduli, bahu-membahu, tolong-menolong, dan lain-lain, apalagi disaat situasi seperti ini. Sebagai yang tertuang dalam firman Allah SWT.

Surah Al-hujurat (49). Ayat ke (10) : “sesungguhnya Orang-orang Mukmin itu Bersaudara “.

Atau antara sesama umat manusia tanpa peduli latar belakang keyakinan, kepercayaan dan agama. Yang dalam bahasa agama juga biasa disebut dengan istilah ikatan ukhuwah basyariyah.

Dan terkait akan hal ini Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah ia memuliakan tamunya”. (Hadis riwayat imam Bukhari Muslim).

Dari apa yang disampaikan Nabi jelas bahwa salah satu tanda baiknya iman seseorang kepada Allah adalah diukur sejauh mana ia dapat bersikap baik terhadap tetangga serta tamunya(tanpa kenal identitas apakah ia muslim atau pun non muslim).

Dan ini juga menunjukkan betapa bolehnya seorang yang beriman bermuamalah, berinteraksi dan bahkan memberikan kepedulian kepada sesama umat manusia, apapun jenis keyakinan dan agamanya atas dasar ukhuwah basyariyah sebagaimana yang telah diajarkan Nabi SAW yang tersirat melalui hadits di atas.

Karenanya bagi orang yang beriman yang memandangnya selalu dengan kacamata iman atas setiap masalah yang ada tak terkecuali wabah ini, alih-alih merasa bersedih, berduka, berkabung, komplain, berontak, berkeluh kesah, mencari kambing hitam, justru malah tersenyum sumringah, bahagia, dan bersuka cita dari balik ujian yang melanda.

Baca Juga:  Noken, Tas Tradisional Papua yang Muncul di Google Doodle Hari Ini

Karena dibenak mereka, justru kondisi demikianlah yang akan menjadi ladang amal buat mereka untuk selalu bersabar, bersyukur, berbagi, dan saling peduli. Dan itu bagi mereka bisa menjadi jalan untuk meraup pundi-pundi amal yang lebih banyak atau sebagai sarana untuk lebih membina hubungan yang baik dengan yang Maha Pencipta.

Maka sejatinya di mata orang yang beriman segala sesuatu tidak ada yang sia-sia. Semuanya terukur dan bisa menjadi kebaikan. Bila lapang dan syukur, akan jadi kebaikan. Bila sempit dan sabar,

pun akan jadi kebaikan bagi mereka. Sebab iman bukanlah soal lapang atau sempit, tetapi bagaimana tetap bisa membangun sikap positif terhadap Allah dan apa yang ditetapkannya.

Sehingga Ramadhan kali ini kendati belum dapat memeriahkannya (yang kemungkinannya jatuh pada Selasa 13 April 2021), namun itu bukanlah menjadi alasan untuk terus-menerus larut dalam kesedihan yang berkepanjangan, menggerutu, mendongkol, atau sampai kalap.

Karena Ramadhan sejatinya di mata mereka bukanlah sekadar seremoni meriahnya penyambutan saja. Tetapi lebih kepada esensi iman berupa sabar dan syukur yang dicapainya melalui upaya sikap bijaksana yang terlahir dari adanya perspektif iman yang digunakan sebagai tolok ukur untuk melihat dan menilai setiap soalan dan problematika hidup yang ada termasuk wabah ini.

Apalagi kedua hal ini justru menjadi suplemen untuk jiwa mereka untuk tetap semangat dan bahkan bisa merasakan bahagia meski ditengah wabah mendera. Malah Mereka tetap dapat menyunggingkan senyum, berbagi ceria, berseloroh, bersantai bersama sanak saudara, handai Tolan, serta rekan sejawat.

Kendati mungkin di saat yang bersamaan terlihat pula wajah-wajah penuh derita, luka, lara dan nestapa. Namun wajah binar yang ceria adalah gambaran hati yang damai. Sementara yang penuh nestapa adalah cerminan hati yang rapuh retak berkeping-keping.

Sederhananya, yang satu kokoh dan teguh karena berurat akar pada sabar dan syukur yang merupakan nilai prestisius daripada iman, sedangkan yang satunya lagi tak berurat sama sekali, sehingga dengan mudahnya luluh berkeping-keping.

Itulah sekiranya gambaran perbedaan kondisi hati (jiwa) orang yang betul-betul melibatkan iman dalam segala aspek kehidupannya dan yang hanya sekedar bertumpu pada rasio akal semata.

Labih jauh dari itu, sabar dan syukur justru dapat menjadi solusi ampuh untuk mengatasi segala macam penyakit rohani, termasuk penyakit psikologi yang akhir-akhir ini banyak menjangkiti manusia-manusia modern. Bahkan dapat menjadi pembuka pintu-pintu sukses, jalan solusi, pemicu hadirnya kedamaian, ketentraman, dan bahkan kebahagiaan.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surah At-Taghabun (64). Ayat( 11) : “tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepada hatinya(rasa tentram, jalan keluar yang baik). Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

28 Sya’ban 1442/ 11 April 2021.

Share :

Baca Juga

LAINNYA

Bantah Dzalimi Muh Sabir, Kejaksaan Target Limpahkan Berkas Pekan Depan

DAERAH

Banjir di Kota Bulukumba, Sekitar Lapas Taccorong Terparah

LAINNYA

Bulan Ramadhan Berkah, Hijrah Finansial

LAINNYA

KASN Temukan Pelanggaran pada Mutasi Pejabat di Pemkab Bulukumba

LAINNYA

Curnak Resahkan Warga Desa Sopa, Semalam 5 Sapi Hilang

DAERAH

Kabar Baik! Pasien Positif 003 Bulukumba Sembuh, Hari Ini Dijemput oleh Keluarganya

LAINNYA

OPINI: Inkonsistensi dan Keteledoran Bupati Bulukumba pada Pandemi Covid-19

LAINNYA

Dipindahkan ke Lapas Bulukumba, Napi Teroris Berkelakuan Baik
error: Content is protected !!