Home / DAERAH

Rabu, 3 Juni 2020 - 15:44 WIB

Hindari Gaduh Susulan BLT Desa Anrihua, Kedua Belah Pihak Dimediasi

Puluhan emak-emak Desa Anrihua, Kecamatan Kindang menyegel Kantor Desa Anrihua, Jumat (29/5/2020).

Puluhan emak-emak Desa Anrihua, Kecamatan Kindang menyegel Kantor Desa Anrihua, Jumat (29/5/2020).

BULUKUMBA, KUMANIKA.com–Polemik Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan sembako di Desa Anrihua, Kecamatan Kindang, akhirnya memasuki proses mediasi antara perwakilan demonstran dan pihak pemerintah desa. Proses itu dilaksanakan di Kantor Camat Kindang, Kelurahan Borongrappoa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Sejumlah aparat kepolisian diturunkan untuk menjaga proses mediasi berjalan lancar terkait kisruh yang sempat diwarnai penyegelan Kantor Desa Anrihua tersebut.

Camat Kindang, Andi Awaluddin meminta agar tidak ada lagi perselisihan lanjutan pasca mediasi dilakukan. Hal itu ia sampaikan setelah melakukan proses mediasi.

“Harapannya, persoalan di Desa Anrihua hari ini dapat selesai dengan damai. Kedepan, masalah di masa pandemi ini semoga bisa kita hindari,” pinta Andi Awaluddin, Selasa, (2/6/2020) kemarin.

Baca Juga:  KPU Bulukumba Ancam Batalkan Kandidat yang Namanya Berbeda di KTP dan Rekomendasi Parpol

Adapun untuk pemerintah desa, Andi Awal meminta agar memasang nama-nama penerima di kantor desa. Hal itu sebagai bentuk transparansi penerima BLT yang menjadi perkara utama.

Dengan begitu, masyarakat bisa langsung mengawasi dan mengetahui nama-nama penerima bantuan secara transparan.

Sementara itu, Kabag OPS Polres Bulukumba, Kompol Hery mengatakan, pengawalan itu bertujuan memberikan rasa nyaman kepada masyarakat di Kecamatan Kindang.

“Kami mengajak agar kerukunan bermasyarakat antar sesama tetap terjaga. Tentu harapannya, polemik ini segera bisa diselesaikan,” tutur Kompol Hery.

Polemik pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan sembako di Desa Anrihua, Kecamatan Kindang, memasuki proses mediasi.

Baca Juga:  Kadinkes Sulsel Sebut 12 Kabupaten Aman Covid-19, Berikut Daftarnya

Diketahui protes warga yang berujung penyegelan kantor desa dan penutupan jalan tersebut, terkait atas dugaan kelompok demonstran kepada pemerintah desa yang dinilai tidak adil dalam pembagian bantuan sosial.

Salah satu kelompok demonstran, Muhajir membeberkan, istri dari Kepala Dusun Bonto, Habibi, juga tercatat namanya sebagai penerima BLT.

Habibi sendiri yang melihat nama istrinya menjadi penerima BLT, mengaku sudah membatalkan penerimaan bantuan itu. Ia mengungkapkan bahwa data itu dari pusat dan sebelum dirinya menjabat sebagai kepala dusun.

Data bansos tersebut diketahui menggunakan data tahun 2011 lalu, sehingga banyak masyarakat yang kini sudah mapan secara ekonomi namun tetap terdaftar sebagai penerima bantuan di Bulukumba. (*/af)

Share :

Baca Juga

DAERAH

Februari 2021 Vaksin Synovac terdistribusi, Nakes Enggan Divaksin

DAERAH

Kartu Baik Tuntas Bantaeng Sentuh 307 Lansia dan Penyandang Disabilitas

DAERAH

Perebutan Rekomedasi Memanas: Waketum Golkar Anulir Keputusan Usung AHP

DAERAH

Pihak Kepolisian Evakuasi Bayi yang Ditemukan Warga di Kebun

DAERAH

Bupati Bantaeng Singgung SD Parring-parring, Dinas Pendidikan Diminta Lakukan Rehab

DAERAH

Tim SAR Evakuasi Nelayan Sinjai di Perairan Laut Timur Selayar

DAERAH

Positif Covid-19 di Bulukumba Mendadak Tambah 8 Kasus

DAERAH

Pemkab Bantaeng Ikuti Upacara Harkitnas 113 Tahun Secara Virtual