Kumanika.com – Danau Tempe merupakan danau alami yang terletak di Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Danau ini memiliki luas sekitar 13.000 hektar dan merupakan danau terbesar di Sulawesi Selatan. Danau Tempe juga merupakan danau terbesar di Sulawesi Selatan dan menjadi sumber air bagi sekitar 600.000 warga yang tinggal di sekitarnya. Dikelilingi oleh hutan bakau dan tanaman air, Danau Tempe memiliki ekosistem yang kaya dan menjadi sumber kehidupan bagi banyak spesies flora dan fauna. Salah satu hal menarik dari Danau Tempe adalah fenomena air pasang surut yang terjadi setiap hari. Fenomena ini menyebabkan perubahan luas danau secara signifikan antara musim hujan dan musim kemarau. Saat musim hujan, danau bisa meluas hingga 35.000 hektar karena banyaknya air yang mengalir ke danau dari sungai-sungai di sekitar danau. Di Danau Tempe, wisatawan bisa menikmati pemandangan alam yang indah, menyaksikan berbagai spesies burung yang bermigrasi. Serta mengenal kehidupan masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai nelayan dan petani memanfatkan kondisi alam Danau Tempe. Beberapa aktivitas populer yang dapat dilakukan di Danau Tempe meliputi berkendara perahu, memancing, dan menjelajahi hutan bakau. Pemerintah setempat berupaya untuk melestarikan ekosistem danau dan mengembangkan potensi wisata di Danau Tempe. Beberapa fasilitas telah dibangun untuk menunjang kegiatan wisata, seperti rumah flotasi yang digunakan sebagai tempat menginap dan bersantap bagi para turis. Tentunya, Danau Tempe adalah salah satu destinasi wisata alam yang menarik untuk dikunjungi di Sulawesi Selatan. Selain itu, Danau Tempe diketahui memiliki beberapa hal unik yang bisa ditemukan saat berkunjung ke danau ini. Selain keunikan atas perubahan luas danau yang terjadi akibat fenomena pasang surut air. Pada musim hujan, luas danau bisa mencapai sekitar 35.000 hektar, sedangkan pada musim kemarau bisa menyusut menjadi sekitar 13.000 hektar. Masyarakat sekitar Danau Tempe umumnya adalah nelayan dan petani yang hidup berdampingan dengan alam. Beberapa masyarakat juga tinggal di rumah panggung di atas air yang disebut “lanting” untuk menyesuaikan dengan perubahan air pasang surut. Pada setiap bulan Agustus atau September, masyarakat Wajo yang tinggal di sekitar Danau Tempe mengadakan upacara adat yang dikenal sebagai Bakar Tongkang. Upacara ini melibatkan perahu-perahu yang dihiasi dengan aneka lampu dan diiringi oleh musik tradisional. Upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan kelimpahan hasil tangkapan ikan kepada Tuhan.(*) Navigasi pos Bukan Sulsel, Ternyata Ini Daerah Penghasil Semangka Terbesar di Indonesia Pendiri ‘Akademi Crypto’ Timothy Ronald Dipolisikan Imbas Dugaan Penipuan Trading