Home / NEWS

Senin, 20 September 2021 - 19:40 WIB

Disuruh Pulang Setelah Pemeriksaan, Pasien Puskesmas Caile Merasa Tak Dilayani dengan Baik

Puskesmas Caile. Foto: ADI

Puskesmas Caile. Foto: ADI

BULUKUMBA, KUMANIKA.com– Salah seorang warga Kelurahan Ela-ela, Kecamatan Ujung Bulu bernama Febri Arianti, mengalami situasi darurat karena air ketubannya hampir habis di Puskesmas Caile, Rabu (15/09/2021) lalu.

Saat memeriksakan diri sekitar pukul 23.00 WITA pada hari itu, Febri Arianti sudah dalam kondisi mengeluarkan air ketuban dan tidak stabil. Namun, menurut keterangan Akbar, suaminya, Pasien hanya disuruh untuk beristirahat saja.

Menurut Akbar, saat dikonfirmasi via telepon, pelayanan Puskesmas Caile tersebut merugikan. Bahkan, jika dirinya tak berinisiatif mencari pelayanan medis lain, kemungkinan besar ibu dan bayinya akan menagalami kondisi yang lebih buruk.

“Waktu saya ke sana (Puskesmas. Red), kata perawat, katanya tidak apa-apa karena belum ada pembukaan. Jadi katanya butuh istirahat saja,” terang Akbar, Senin (20/09/2021).

Merespon kondisi Sang Istri saat masih di Puskesmas Caile, Akbar kemudian membawanya ke RSUD Sultan Daeng Radja untuk memperoleh tindakan lebih lanjut, karena air ketuban Febri sisa sedikit dan mulai berbau. Akhirnya, dokter menyarankan untuk operasi, sebab Febri tak memungkinkan lagi melakukan persalinan secara normal.

“Andai ada rujukan atau tindakan itu tidak masalah, malah kami hanya disuruh pulang dan katanya tidak apa-apa. Sampai di rumah, air ketuban keluar terus tapi masih dianggap biasa,” tutur Akbar menyanyangkan.

Beruntung, anak Akbar dan Febri lahir dengan selamat. Akan tetapi, bayi tersebut masih menjalani perawatan karena kondisi yang belum stabil.

“Andai terjadi apa-apa, ini tidak terlepas dari sebab akibat pelayanan di Puskesmas. Andai mungkin saat itu langsung ditindaki, mungkin istri saya bisa lahir (melahirkan) normal. Istri dan anak saya nyaris tak tertolong, untung RSUD cepat bertindak,” sambung Akbar.

Baca Juga:  Kasus Kematian Ibu dan Anak: Manajemen RSUD Bulukumba Tak Penuhi Panggilan Polisi

Ia menambahkan, selama ini Puskemas terus mengimbau agar proses persalinan dilakukan di pelayanan kesehatan terdekat. Namun saat ke lokasi yang dimaksud, pasien malah tidak dilayani dengan baik. Padahal ini menyangkut nyawa.

Sementara itu Kepala Puskesmas Caile, Indrayana saat dikonfirmasi, menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari bidan yang menjaga saat itu, pasien datang dengan keluhan sudah ada air keluar. Tindakan yang dilakukan kemudian adalah mengambil data pasien, tujuannya untuk dilakukan pemeriksaan Vaginal Toucher (VT).

Saat itu, menurut Indrayana, dari hasil pemeriksaan belum ada pembukaan seperti yang disampaikan oleh bidan. Usai proses tersebut, mereka kemudian melakukan pemeriksaan denyut jantung bayi.

“Setelah itu disarankan untuk pulang ke rumah. Nanti kalau ada keluhan lagi dapat kembali ke puskesmas, karena terbuka 24 jam untuk persalinan. Ternyata keesokan harinya Ia (pasien. red) sudah di RS dengan pembukaan dua,” jelas Indrayana.

Lebih jauh Ia memaparkan, proses kelahiran ditandai dengan pengeluaran cairan berupa lendir atau darah. Biasanya, itu baru pembukaan satu atau dua dan jarak untuk pembukaan berikutnya, jika hasilnya bagus. Itu sebabnya pasien terlebih dulu diarahkan untuk kembali ke rumahnya.

“Tapi itu setelah selesai pemeriksaan oleh bidan jaga, dan dianjurkan untuk kembali ke puskesmas lagi jika sakitnya berturut-turut lima samapi sepuluh menit,” kata Indriyana.

Baca Juga:  Bulukumba Raih Penghargaan sebagai Kabupaten Terbaik Implementasi Program Transformasi Perpustakaan

Terkait hal tersebut, pihak RSUD Sulthan Dg Radja membenarkan jika Febri memang sudah dalam kondisi nyaris kehabisan air ketuban, ketika dibawa ke rumah sakit. “Pasien yang datang di RS itu memang sudah hampir habis air ketubannya, sehingga kami langsung mengambil sikap tegas untuk melakukan operasi,” kata dr. Rizal.

Plt Direktur RSUD Sulthan Dg Rdja tersebut juga menambahkan, bayi di awal kelahiran memang biasanya dirawat terlebih dulu oleh petugas RS. Hal tersebut untuk memastikan kesehatan bayi. Sebab, katanya, jika kondisi air ketuban pasien sudah dalam keadaan kering, kemungkinan sebagian sudah sempat terminum oleh bayi dalam kandungan. Hal tersebut berpotensi menimbulkan keracunan.

“Itu, kan (perawatan bayi. Red) bisa saja ada beberapa faktor. Pertama, karena keracunan air ketuban, dia minumki itu air ketubannya. Ah, mungkin, toh. Ke dua, bisa juga mungkin fungsi paru-parunya bayinya belum bagus, sehingga dokter anak harus merawat dulu secara khusus. Biasanya hari ke lima, lima hari itu baru bisa pulang,” paparnya.

Dokter Rizal juga menyampaikan, perawatan pada kondisi KPD (Ketuban Pecah Dini) jika bukaan jalan lahir masih kecil, maka perlu untuk cepat dilakukan determinasi. Sedangkan bagi pasien yang sudah memasuki fase bukaan jalan lahir pada angka delapan, misalnya, masih bisa diupayakan untuk proses persalinan normal.

Penulis: ADI

Share :

Baca Juga

NEWS

Anak Dibawa Umur Ikut Terlibat Kasus Pembobolan Toko di Bulukumba

NEWS

Hanya Berselang 2 Hari, Positif Covid-19 di Bulukumba Tambah 2 Lagi

NEWS

Beri Ucapan Selamat, Plt Direktur RSUD Bulukumba Minta Dewas Jaga Sinergitas

NEWS

Abdul Wahab Kembali Jabat Sekda Bantaeng

NEWS

Tangis Histeris Sambut Jenazah Remaja Asal Bulukumba yang Tewas di Gunung Bawakaraeng

NEWS

Kemenag Bulukumba: Zakat Fitrah 2020 Rp29.750 Perorang

NEWS

Lewat SASKIA, Pemkab Bantaeng Kembali Raih Penghargaan

NEWS

Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bulukumba Turun 1,09 Persen