Home / NEWS

Minggu, 28 Februari 2021 - 04:37 WIB

Agung Sucipto Suap Nurdin Abdullah Untuk Dapatkan Proyek Tahun 2021

KPK tetapkan Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah sebagai tersangka.

KPK tetapkan Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah sebagai tersangka.

JAKARTA, KUMANIKA.com– Gubernur Sulawesi selatan, Nurdin Abdullah (NA) resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Nurdin Abdullah di sangkakan atas dugaan penerimaan suap proyek infrastruktur dari Direktur PT Agung Perdana Bulukumba, Agung Sucipto (AS) sebagai pemberi suap melalui Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sulawesi selatan, Edy Rahmat (ER).

Ketua KPK Firli Bahuri KPK dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Minggu (28/2/2021). Menerangkan jika AS telah lama kenal baik dengan NA yang berkeinginan untuk mendapatkan beberapa proyek infrastruktur di Sulsel tahun 2021.

AS telah mengerjakan sejumlah proyek di Sulsel, diantaranya. Peningkatan ruas jalan Palampang-Munte Bonto Lempangan Sinjai-Bulukumba melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2019 sebesar Rp28,9 miliar.

Selanjutnya, lanjut Firli. AS juga perna mengerjakan proyek pembangunan ruas jalan Palampang-Munte Bonto Lempangan Sinjai-Bulukumba tahun 2020 dengan nilai proyek Rp15,7 miliar.

Pada proyek yang sama, AS juga mengerjakan pembangunan ruas jalan Palampang-Munte Bonto Lempangan Sinjai-Bulukumba, 1 paket APBD Provinsi Sulsel sebesar Rp19 miliar.

Selain itu, AS juga mengerjalan pembangunan jalan pendistrian dan penerangan jalan kawasan wisata Pantai Tanjung Bira, dengan anggaran yang berasal dari bantuan keuangan Provinsi Sulsel tahun 2020 dengan nilai proyek Rp20,8 miliar.

Pekerjaan lain yang juga dikerjakan AS yakni rehabilitasi jalan parkiran satu dan pembangunan jalan parkiran dua kawasan wisata Pantai Bira dengan anggaran bantuan keuangan Provinsi Sulsel tahun 2020 sebesar Rp7,1 miliar.

Baca Juga:  Dana BOS dan DAK Fisik Dongkrak Mutu Operasional Sekolah

“Sejak bulan Februari tahun 2021, telah ada komunikasi aktif antara AS dengan ER sebagai reperesentasi sekaligus orang kepercayaan NA untuk bisa memastikan agar AS mendapatkan kembali proyek yang diinginkan tahun 2021,” terang Firli.

Dalam beberapa komunikasi, lanjut Firli. Diduga telah ada tawar menawar fee untuk penentuan keuntungan masing-masing proyek yang akan dikerjakan AS ditahun 2021.

Pada awal Februari 2021, ketika NA sedang berada di Bulukumba bertemu dengan ER dan AS yang telah mendaftarkan proyek pekerjaan wisata Bira. NA menyampaikan kepada ER, bahwa kelanjutan proyek wisata Bira akan kembali dikerjakan oleh AS yang kemudian memerintahkan ER untuk mempercepat pembuatan dokumen Detail Enginering Desain (DED) yang akan dilelang pada APBD tahun 2022.

Diakhir Februari 2021, pada saat ER bertemu NA. Disampaikan bahwa fee proyek yang dikerjakan AS di Bulukumba telah diberikan kepada pihak lain. Saat itu NA mengatakan yang penting biaya operasional NA tatap bisa dibantu oleh AS.

“AS pada 26 Februari 2021 diduga telah menyerahkan uang sebesar Rp2 miliar kepada NA melalui ER,” ujar Firli.

Selain dari AS, NA juga diduga menerima sejumlah uang dari kontraktor lain diantaranya pada akhir tahun 2020, NA menerima uang sebesar Rp200 juta.

Baca Juga:  Peran Bupati Sukri Dalam Dugaan Korupsi Stadion Bulukumba

Diawal Februari 2021, NA melalui ajudanya Samsul Bahri (SB) menerima uang sebesar Rp2,2 miliar dan NA kembali menerima uang sebesar Rp1 miliar melalui SB pada pertengahan Februari tahun 2021.

“Berdasarkan keterangan para saksi dan bukti yang cukup, maka KPK berkeyakinan bahwa NA ER berperan sebagai penerima. Sedangkan AS berperan sebagai pemberi,” terang Firli.

NA dan ER, disangkakan melanggar pasal 12 huruf a dan pasal 12 huruf b, atau pasal 11 dan pasal 12 B besar Undang-undang nomor 31 1999 tentang pemberantasan tindak pindana korupsi junto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Sedangkan untuk AS disangkakan pasal 5 ayat 1 huruf a atau pasal 5 ayat 1 huruf b atau pasal 13 ayat Undang-undang 31 1999 tentang pemberantasan tindak pindana korupsi junto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

“Para tersangka, NA, ER, dan AS dilakukan penahanan selama 20 hari. Pertama terhitung sejak tanggal 27 Februari sampai 18 Maret 2021,” jelas Firli.

“NA akan ditahan di Rutan KPK cabang Pomdam Jaya Guntur. ER ditahan di Rutan KPK pada kavling C1 dan AS ditahan di Rutan KPK pada pada grup merah putih. Kesemuanya ditahan berdasarkan protokol kesehatan,” tambah Firli.

Reporter: IKM

Share :

Baca Juga

DAERAH

Kopel: Kasus Kematian Ibu dan Anak Perpanjang Catatan Buruk RSUD Bulukumba

NEWS

Anggota Dewan di Bulukumba Akui Istrinya Positif Covid-19

NEWS

Capai Target Akseptor, Bupati Bulukumba Terima Penghargaan dari BKKBN

DAERAH

Jaga Ketahanan Pangan, Bupati dan Dandim 1411 Bulukumba Panen Raya Jagung

DAERAH

Pekan Depan, Pemkab Bulukumba Bolehkah Pelajar SD dan SMP Masuk Sekolah Meski Masih Zona Merah

DAERAH

BLT Covid-19 Desa di Bulukumba Diprotes Warga, Tahap Pertama Dapat Tahap Kedua Tidak

HEADLINE

AM Sukri Ajak Bupati-Wabup Terpilih Tiru Kesetiaan Dirinya Bersama TSY

NEWS

Pembayaran Insentif Nakes RSUD Besar, Kadinkes: Kita Harus Adil